Kamis, 25 Juni 2015

Empat Hal, Bisa Gagalkan Ramadhan

Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil


BULAN Ramadhan telah tiba. Beruntunglah mereka yang mampu memanfaatkannya dan celakalah bagi mereka yang gagal di dalamnya.



Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan yang gagal dalam Ramadhan, kita perlu mengetahui apa saja penyebab kegagalan yang bisa menyeret pada penyesalan di akhirat kelak, sekaligus mencari solusinya.



Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam mengaminkan doa Jibril yang datang kepada beliau. Suatu ketika, Rasulullah naik mimbar untuk menyampaikan khutbah. Setiap kali naik ke anak tangga, beliau berucap, “amin.” Demikian beliau mengucapkan sampai anak tangga ketiga. Selepas khutbah, Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam ditanya oleh para sahabat. “Ya Rasulullah, kami telah mendengar sesuatu dari paduka pada hari ini yang kami belum pernah mendengar sebelumnya.”

Lalu Nabi Shallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab, “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan membisikkan (doa) kepadaku. Katanya, ‘Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tapi dosanya tidak diampuni.’ Lalu kuamini doanya. Dia berkata lagi, ‘Celakalah orang yang apabila namamu disebut di sisinya tapi tidak bershalawat kepadamu.’ Lalu aku mengaminkannya. Kemudian Jibril berkata, ‘Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang sudah tua atau salah satu daripadanya, namun mereka tidak memasukkannya ke dalam surga.’ Lalu aku pun mengaminkannya.” (HR. Al-Hakim).


Sangat penting bagi kita untuk mengetahui lebih jauh tentang penyebab-penyebab yang membuat mereka celaka dikarenakan tidak mendapat ampunan di bulan Ramadhan.

Penyebab pertama adalah seseorang melakukan puasa tanpa disertai keikhlasan. Ikhlas adalah ukuran diterimanya amal perbuatan. Setiap perbuatan yang kita kerjakan harus didasarkan karena mengharap ridha Allah.


Mereka yang berpuasa dengan ikhlas hanya mengharap ridha Allah tidak akan menghiraukan pamrih dan penghargaan dari orang lain. Mereka berpuasa bukan karena sungkan kepada atasan, bawahan, mertua, istri, teman, atau siapapun. Orang yang ikhlas, jika melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, karena Allah Subhanahu Wata’ala.

Orang yang ikhlas itu seperti orang yang menulis surat. Suratnya ia tulis dengan baik dengan susunan kata yang indah dan enak dibaca. Namun semuanya itu akan sia-sia jika ia salah menuliskan alamat tujuan. Ia hendak mengirmkan surat kepada orang tuanya di Aceh, namun di alamat tertera alamat yang berlokasi di Surabaya. Maka, surat itu tidak akan sampai ke tangan yang berhak menerimanya. Jika salah alamat (niat dan tujuan), sebaik dan sebanyak apapun amal perbuatan tersebut, tidak akan sampai kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Rasulullah bersabda, “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari).
Penyebab kedua mereka bisa gagal dalam Ramadhan adalah berpuasa tanpa dasar ilmu. Ilmu harus menjadi dasar setiap perbuatan dan perkataan. Setiap ucapan dan tindakan yang kita lakukan harus ada rujukan. Sebagai seorang muslim yang abid (orang yang beribadah) rujukannya adalah ilmu yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah, dan bimbingan para ulama.


Puasa tanpa ilmu membuat mereka hanya akan mendapatkan rasa lapar dan haus. Mereka menduga sudah melakukan banyak hal. Nyatanya? Kosong dan hampa, karena tidak didasari ilmu. Oleh karena itu, sejak dini kita harus memiliki ilmu tentang sunnah-sunnah puasa, hal-hal yang makruh dan perkara-perkara yang bisa membatalkan puasa, serta hikmah-hikmah puasa. Dengan ilmu, kita bisa mengetahui kebaikan dan kebajikan dalam Ramadhan.



Peyebab ketiga, penyebab kegagalan adalah mereka berpuasa secara lahir minus batin. Mereka yang berpuasa secara lahir, seperti menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, tanpa melihat tuntunan puasa yang lain, akan menjadi orang yang gagal dalam Ramadhan.



Mulut dan kemaluannya memang berpuasa dari hal-hal yang membatalkan puasa, namun mereka tidak mem-puasa-kan mulutnya dari berkata yang jorok, cabul, dan kotor, seperti menggunjing, mengumpat, menfitnah, dan berdusta. Puasa demikian adalah puasa yang tidak dipandang oleh Allah. “Barangsiapa yang tidak meninggalkan berkata dusta dan beramal kedustaan, maka Allah Subhanahu Wata’ala tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minuman.” (HR. Bukhari).



Penyebab keempat, berpuasa dengan penuh kemalasan dalam melakukan amal shalih. Mereka merasa bahwa puasa itu membuat tubuh menjadi lemah dan payah. Mereka mencukupkan diri dengan menahan diri dari makan dan minum. Karenanya ia bermalas-malasan dalam melakukan kegiatan-kegiatan baik lainnya seperti tadarrus, sedekah, iktikaf, tarawih. Bahkan bagi mereka, puasa sekadar perpindahan jam makan. Sehingga kala berbuka puasa, ia jadikan sebagai ajang balas dendam dengan berpestapora dalam melahap makanan dan minuman.



Itulah empat penyebab mengapa mereka gagal dalam puasa Ramadhan. Solusinya, tidak lain, kita harus menyiapkan diri untuk ikhlas dalam beribadah karena Allah, istiqamah mencari ilmu, menggabungkan puasa secara lahir dan batin, dan menumbuhkan semangat dalam meraih pundi pahala-pahala serta ampunan Allah Subhanahu Wata’ala. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1436 H.*


0 comments:

Posting Komentar